The Master discusses with his disciples and unveil his preoccupations with society. Tr. Legge (en), Lau (en) and Couvreur (fr).
« While there may be some truth to the claim that in the West, every person is born either a Platonist or an Aristotelian, it is A.N. Whitehead's apothegm, 'All of Western philosophy is a series of footnotes to Plato', that, mutatis mutandis, resonates best with the Chinese context. For indeed, all of Chinese thinking is a series of commentaries on Confucius. » is what is written in the Routledge article about Confucius and Confucianism. The "first chinese teatcher" (Feng Yulan) has fascinated Voltaire and decieved Hegel. One can see him as a Chinese Christ, or as a materialist, or as a moral idealist, or as a king without kingdom. Sure, he was concerned with social troubles of his times and wanted the Rites to order and pacify human beings, and replace the "Jungle's law", so he was also a great politician, who strongly influenced the bigger part of the last living ancient civilisation. At the end of his life, considering he had no sucess in the realisation of his ideas, he worried about prosperity. But now, two thousand years and a half after, his personality and moral influence is always alive in China and all over the world.
In the Lun yu, we can read shorts analects were the Sage lives and discuss with his disciples. This is maybe the first human scripture giving someone's detailed and realistic portrait.
Short biography : «
The name Confucius is the latinized form of the Chinese characters, K´ung Foo-tsze, meaning, “The master, K´ung.” The bearer of this name was born of an ancient and distinguished family in the district of Tsow, in the present province of Shen-tung, China, B. C. 551. His father was a soldier of reputation and governor of Tsow, but not a man of wealth. Confucius married at nineteen, and in his early manhood held a minor office; but within a few years he became a public teacher, and soon attracted numerous disciples. Rising in reputation, he was invited to the court of Chow, where he investigated the traditional ceremonies and maxims of the ruling dynasty; and in the following year visited another state where he studied the ancient music. When he was nearly fifty, in the year 500 B. C., he again took office, becoming in turn chief magistrate of the town of Chung-too, Assistant-Superintendent of Works to the Ruler of Loo, and finally Minister of Crime. In spite of almost miraculous efficiency, he lost the support of his ruler in 496 B. C.; and until his death in 478 B. C., he wandered from state to state, sometimes well-treated, sometimes enduring severe hardships, always saddened by the refusal of the turbulent potentates to be guided by his beneficent counsels. No sooner was he dead, however, than his wisdom was recognized by peasant and emperor alike; admiration rose to veneration, veneration to worship. Sacrifices were offered to him, temples built in his honor, and a cult established which has lasted almost two thousand years.
Confucius did not regard himself as an innovator, but as the conservator of ancient truth and ceremonial propriety. He dealt with neither theology nor metaphysics, but with moral and political conduct.
The Lun Yu, Analects or Sayings of Confucius, were probably compiled, says Legge, “by the disciples of the disciples of the sage, making free use of the written memorials concerning him which they had received, and the oral statements which they had heard, from their several masters. And we shall not be far wrong, if we determine its date as about the beginning of the third, or the end of the fourth century before Christ.” » Cf. this page.
6. a. Junzi tidak menggunakan warna ungu tua dan sawo tua untuk hiasan pakaian.
b. Bahkan untuk pakaian dalam biasa juga tidak digunakan warna merah atau kemerah-merahan.
c. Pada waktu musim panas tidak mengenakan pakaian rangkap dari kain katun, halus atau kasar, tetapi selalu mengenakan pakaian dalam.
d. Bila mengenakan pakaian luar berwarna hitam, pakaian dalamNya dibuat dari kulit kambing hitam. Bila mengenakan pakaian luar berwarna putih, pakaian dalamNya dibuat dari kulit rusa putih. Dan bila mengenakan pakaian luar berwarna kuning, pakaian dalamNya dibuat dari kulit rubah kuning.
5. a. Pada waktu membawa tanda titah, jalanNya membongkok seolah-olah tidak kuat membawanya. Pada waktu mengangkat tanda titah itu ke atas, nampak sebagai orang menghormat dengan Yu, dan pada waktu menurunkannya nampak sebagai orang menyerahkan sesuatu. Wajahnya juga nampak berubah penuh perhatian, tindakan kakiNya seolah-olah dibebani sesuatu.
b. Setelah menyerahkan tanda titah itu, baharulah wajahNya nampak tenang.
c. Pada waktu bertemu dengan raja di luar dinas, wajahNya nampak sangat senang.
4. a. Pada waktu masuk pintu gerbang, jalanNya membongkok seolah-olah tempatnya tidak leluasa.
b. Pada waktu berdiri tidak pernah ditengah pintu, dan pada waktu melaluinya tidak menginjak ambang pintu.
c. Pada waktu melewati tahta, wajahnya nampak berubah, kakinya agak ditekuk, dan kata-kataNya terdengar perlahan.
d. Pada waktu menaiki balairung, jubahNya diangkat dengan rapih, badanNya membongkok, napasNya ditahan seoralh-olah tidak bernapas.
e. Pada waktu turun kembali, begitu turun di tingkat pertama, wajahNya nampak gembira dan sikapNya lebih leluasa. Setelah sampai di bawah, cepat-cepat berjalan dengan tangan seperti burung membentangkan sayap menuju tempatNya, dan sikapNya tetap hormat serta sedap dipandang.
3. a. Pada waktu ditugaskan menyambut tamu, nampak perubahan pada wajahnya dan langkah kakinya tenang.
b. Setelah berhadapan (dengan tamu) dan saling memberi Yu, sekalipun mengangkat tangan menghadap ke kiri dan ke kanan, pakaiannya bagian muka maupun belakang nampak rapih.
c. Pada waktu maju menyambut, sikap jalannya sangat indah, tangannya seperti burung membentangkan sayap.
d. Setelah tamu pergi, selalu memberi laporan, "Para tamu sudah tidak menoleh lagi."
2. a. Pada waktu Beliau di balairung, bila bercakap-cakap dengan pembesar rendahan, nampak sangat ramah tamah tetapi tegas, dan bila bercakap-cakap dengan pembesar tinggi nampak hormat tetapi tepat.
b. Bila raja hadir, sikapNya penuh hormat dan tenang.
1. a. Pada waktu Nabi Kongzi di kampung halaman sendiri, nampak sangat hormat seprti tidak cakap bicara.
b. Pada saat di dalam Miao leluhur atau di istana, sangat lancar bicara, hanya saja selalu berhati-hati.
31. 'Betapa indah bunga Tang Di. Selalu bergoyang menarik. Bukan aku tidak mengenangmu, hanya tempatmu terlampau jauh.' Membaca itu Nabi bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak memikirkannya benar-benar. Kalau benar-benar, apa artinya jauh ?'
30. Nabi bersabda, "Yang dapat diajak belajar bersama, belum berarti dapat diajak bersama menempuh Jalan Suci; yang dapat diajak menempuh Jalan Suci, belum berarti dapat diajak bersama berteguh; dan yang dapat diajak berteguh, belum berarti dapat terus bersesuaian paham."
29. Nabi bersabda, "Yang Bijaksana tidak dilamun bimbang, Yang berperi Cinta Kasih tidak merasakan susah payah. Dan yang Berani tidak dirundung ketakutan."
28. Nabi bersabda, "Setelah tiba tengah musim dingin, barulah kita ketahui, pohon Song dan Bo paling akhirnya gugurnya."
27. a. Nabi bersabda, "Dengan pakaian lama bertambal, berjajar bersama dengan orang yang berpakaian dari kulit rubah tanpa merasa malu, hanya Zi-lu orangnya."
b. (Di dalam Kitab Sanjak tertulis) "Tanpa iri, tanpa tamak, siapakah tidak akan berbuat baik ?"
c. Mendengar itu Zi-lu sepanjang hari menghafalkan sanjak itu. Nabi bersabda, "Kalau hanya ingin begitu saja, perbuatan baik apa sudah dilakukan ?"
26. Nabi bersabda, "Seorang panglima yang mengepalai tiga pasukan, masih dapat ditawan. Tetapi cita seorang rakyat jelata tidak dapat dirampas."
25. Nabi bersabda, "Utamakanlah sikap Satya dan Dapat Dipercaya, janganlah berkawan dengan orang yang tidak seperti dirimu dan bila bersalah janganlah takut memperbaiki !"
24. Nabi bersabda, "Kata-kata jujur dan beralasan, siapa tidak ingin mengikutinya, tetapi kalau dapat memperbaiki diri itulah yang paling berharga. Nasehat-nasehat yang lemah lembut siapakah yang merasa tidak suka, tetapi kalau dapat mengembangkan maksudnya, itulah yang paling berharga. Kalau hanya suka tetapi tidak mengembangkan maksudnya, ingin mengikuti tetapi tidak mau memperbaiki diri ; Aku tidak tahu apa yang harus Kulakukan terhadap orang semacam itu."
23. Nabi bersabda, "Kita harus hormat kepada angkatan muda, siapa tahu mereka tidak seperti angkatan yang sekarang. Tetapi bila sudah berumur empat puluh, lima puluh, belum juga terdengar perbuatannya yang baik, bolehlah dinilai memang tidak cukup syarat untuk dihormati."
22. Nabi bersabda, "Di antara benih yang tumbuh ada yang tidak berbunga, dan di antara yang berbunga ada pula yang tak berbuah."
7. Zi-you bertanya hal Laku Bakti.
Nabi menjawab : "Sekarang yang dikatakan Laku Bakti katanya asal dapat memelihara, tetapi anjing dan kudapun dapat memberi pemeliharaan. Bila tidak disertai hormat, apa bedanya ?"
Matakin-Indonesia –
Lunyu 23 – 2008/12/07
6. Meng Wu-po bertanya hal Laku Bakti.
Nabi menjawab : "Orang tua merasa sedih kalau anaknya sakit".
Matakin-Indonesia –
Lunyu 22 – 2008/12/07
5. a. Meng Yi-zi bertanya hal Laku Bakti. Nabi menjawab : "Jangan melanggar !"
b. Ketika Fan-chi menyaisi kereta, Nabi memberitahu kepadanya, "Tadi Meng-sun bertanya hal Laku Bakti dan Kujawab 'Jangan melanggar'."
c. Fan-chi bertanya :Apakah yang Guru maksudkan ?" Nabi menjawab, "Pada saat hidup, layanilah sesuai dengan Kesusilaan, ketika meninggal dunia, makamkanlah sesuai dengan Kesusilaan; dan sembahyangilah sesuai dengan Kesusilaan".
Matakin-Indonesia –
Lunyu 21 – 2008/12/07
4. a. Nabi bersabda : "Pada waktu berusia 15 tahun, sudah teguh semangat belajarKu".
b. "Usia 30 tahun, tegaklah pendirian".
c. "Usia 40 tahun, tiada lagi keraguan dalam pikiran".
d. "Usia 50 tahun, telah mengerti akan Firman Tian".
e. "Usia 60 tahun, pendengaran telah menjadi alat yang patuh (untuk menerima Kebenaran)".
f. "Dan usia 70 tahun. Aku sudah dapat mengikuti hati dengan tidak melanggar Garis Kebenaran".
Matakin-Indonesia –
Lunyu 20 – 2008/12/07